padangtime
facebook instagram twitter google plus
Pendidikan

Terapkan Pola Asuh dengan Basis Sains Ibu-ibu di Komunitas Di London

Senin, 19 Februari 2018 - 08:27:12 WIB - 91


PadangTIME.com - London, Inggris - Kebanyakan kelompok atau komunitas terbentuk berdasarkan bulan dan tahun kelahiran anak atau yang memiliki persamaan lain. Namun, berbeda dengan kelompok ibu-ibu di Inggris ini, Bun. Mereka membentuk kelompok untuk meneliti dan menerapkannya pada pola asuh mereka.

Parenting Science Gang (PSG) merupakan sebutannya. Proyek sains warga Inggris ini dibentuk dan didanai Wellcome Trust. Kelompok proyek ini menghubungkan orang tua lalu berkumpul di grup Facebook dengan minat tertentu. Yang spesial, ada ilmuwan yang membantu mereka merancang dan melakukan eksperimen. Proyeknya mencakup berbagai bidang penelitian mengenai isu-isu seperti stereotip sekolah dan gender.

"Saya mencoba untuk membesarkan anak-anak saya dengan ilmu pengetahuan," jelas Melissa Branzburg, seorang anggota PSG dan ibu dua anak, dikutip dari Science Mag.

Meskipun sebagian besar para anggota menerapkan sains pada pola asuhnya, tapi PSG mengizinkan orang tua untuk menangani masalah pada anaknya dengan cara mereka sendiri. PSG lahir dari sebuah proyek skala kecil saat para ibu mempelajari detergen mana yang terbaik untuk membersihkan popok kain. Hal ini karena menurut pendiri dan direktur PSG, Sophia Collins, nggak ada ilmuwan yang meneliti tentang popok yang bisa dicuci.

Proyek penelitian tersebut berlangsung sejak Maret sampai November 2015 dengan dana dari Wellcome Trust dan Royal Society of Chemistry Inggris. Hasil penelitiannya menunjukkan tidak ada bukti bahwa detergen 'nonbiologis' (detergen yang kekurangan enzim pengikat kotoran) dapat membantu menghindari iritasi kulit. Temuan tersebut menyebabkan Dinas Kesehatan Nasional Inggris membatalkan rekomendasinya untuk penggunaan detergen tersebut.

Setelah proyek berakhir, akhirnya dana sumbangan sebesar £ 147.000 atau kurang lebih Rp 2,7 miliar dibuat untuk membentuk PSG yang dimulai pada bulan Februari 2017 dan akan berjalan selama 2 tahun. Sekitar 2.000 orang tua dilibatkan dan sebagian besar anggota adalah wanita. Kalau para ayah mau ikut gabung, boleh kok. Di PSG, anggotanya berusaha menangani masalah yang penting bagi ibu terutama perihal pola asuh.

"Sebagai orang tua, sudut pandang kita dianggap serius. PSG membuat saya merasa diberdayakan,"kata anggota PSG Mitch Wright.

Semua anggota PSG berhak mengajukan pertanyaan dan penelitian. Sebagai contoh, satu subkelompok bekerja sama dengan ahli fisiologi lingkungan Davide Filingeri, kepala Thermosenselab di Universitas Loughborough di Inggris untuk membantu menjawab pertanyaan yang mengganggu banyak orang tua baru. Seperti 'berapa banyak lapisan pakaian yang dibutuhkan agar bayi tetap nyaman saat berada di gendongan sambil menghindari kepanasan?'. Nah, penelitian yang sedang berlangsung ini mencakup sekitar 15 pasangan ibu-bayi.

Studi PSG ketiga berfokus pada flexi-schooling, sebuah peraturan anak-anak terdaftar di sekolah namun menghadiri kerja paruh waktu. Sub kelompok PSG lainnya akan berfokus pada stereotip gender, pengalaman perawatan kesehatan seputar menyusui, serta kehamilan dan kelahiran bagi wanita dengan indeks massa tubuh lebih tinggi.

Mitch mengatakan bahwa PSG telah menginspirasinya sehingga dia ingin belajar ilmu kimia atau ilmu forensik. Tapi tujuannya bukan untuk mengubah dirinya menjadi ilmuwan.

Sophia, sang direktur juga bilang bahwa nggak ada keharusan bagi semua peserta untuk menjadi ahli dalam membaca literatur ilmiah. Tapi harapannya, para anggota bisa jadi lebih kritis terhadap apa yang mereka baca dan lebih rajin mencari informasi dari majalah sains atau badan klinis, bukan blog selebriti.


Studi juga merupakan kesempatan bagi orang tua untuk belajar lebih banyak proses sains. Dalam penelitian susu, misalnya, para ibu harus memahami keterbatasan praktis dari spektrometri massa, teknik yang digunakan untuk menganalisis susu.

Carlos Gonzales, seorang dokter anak di Gava, Spanyol, yang menulis beberapa buku parenting, memuji prakarsa pembentukan PSG tersebut. Namun, dia mengingatkan bahwa mengasuh anak seringkali bukan tentang bukti, tapi juga tentang pilihan.

"Ilmu pengetahuan tidak bisa memberi tahu kita bagaimana membesarkan anak-anak kita. Ilmu pengetahuan dapat menawarkan data yang dapat kita gunakan untuk membuat keputusan, tapi tidak dapat memutuskan untuk kita, karena kita memiliki kepercayaan, prinsip, keinginan, dan tujuan," tutur Carlos.







Berita lainnya :

 
close
Emzalmi Desri
close
Mahyeldi Hendri
KOTA KABUPATEN     BERITA    
pdangtime

facebook instagram twitter google plus
- Bukittingi
- Padang
- Pariaman
- Payakumbuh
- Pdg. Panjang
- Sawahlunto
- Kota Solok

- Agam
- Dharmasraya
- Mentawai
- Limapuluh Kota
- Padang Pariaman
- Pasaman
- Pasaman Barat
- Pesisir Selatan
- Sijunjung
- Solok
- Solok Selatan
- Tanah Datar

  - Ekonomi
- Hukum/Kriminal
- Pendidikan
- Politik
- Olahraga
- Agama
- Iptek
- Kesehatan
- Pariwisata
- Internasional
- Lingkungan
- Daerah
- Showbiz
- Gaya
- Video
- Foto
 

REDAKSI PEDOMAN MEDIA SIBER KONTAK MOBILE