padangtime
facebook instagram twitter google plus
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura

Penggunaan Garam Beryodium di Sumbar Perlu Pengawasan dari Pemerintah

Senin, 18 Desember 2017 - 21:54:51 WIB - 66


PadangTIME.com  – Kebutuhan garam beryudium untuk dikonsumsi di Sumatera Barat per tahun lebih kurang 18 ribu ton sementara kebutuhan garam untuk industri lebih kurang 6 ribu ton. Untuk tata niaga garam, saat ini hanya mengikuti mekanisme pasar setelah keluarnya Peraturan Presiden nomor 71 tahun 2015. Untuk itu DPRD Sumatera Barat berharap agar Pemprov Sumbar perlu mensoosialisasikan  dan melakukan pengawasan  terhadap penggunaan garam beryodium perlu dilakukan pemerintah dalam rangka menanggulangani Gangguan Kesehatan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Hal ini dikatakan Wakil Ketua DPRD Sumbar Ir Arkadius Dt Intan Bano pada Paripurna DPRD Sumbar Senen (18/12)

Arkadius Dt Intan Bano mengatakan dalam rangka memberikan perlindungan terhadap masyarakat, pemerintah harus memberikan penyuluhan kepada masyarakat serta meningkatkan pengawasan terhadap peredaran garam di pasaran.

Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit dalam rapat paripurna Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sumatera Barat, Senin (18/12) menjelaskan hal itu menyampaikan jawaban pemerintah terhadap pandangan umum fraksi terhadap Ranperda tentang Penanggulangan GAKY. Jawaban ini sekaligus sebagai sikap kesepahaman pemerintah dengan pandangan fraksi-fraksi terhadap masalah GAKY.

“Sangat perlu dilakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mengkonsumsi garam beryodium yang memenuhi SNI,” kata Nasrul.
Melalui dinas terkait, pemerintah daerah telah melakukan berbagai kegiatan dalam rangka peningkatan pemahaman masyarakat terhadap garam konsumsi. Langkah-langkah tersebut antara lain melalui sosialisasi dan penyuluhan langsung kepada masyarakat melalui Gerakan Konsumen Cerdas dan Program Keluarga Sadar Gizi.

Nasrul mengakui, dari hasil pemantauan terhadap garam beryodium, memang masih ditemukan garam yang tidak memenuhi SNI dengan kadar 30-80 ppm. Akan tetapi, untuk garam konsumsi tidak adayang tidak mengandung yodium.

Dia menyebutkan, kebutuhan garam masyarakat Sumatera Barat dipasok dari luar daerah karena tidak bisa memproduksi garam sendiri. Air laut di perairan Sumatera Barat tidak memiliki potensi karena kandungan garamnya rendah.

Menurutnya, kebutuhan garam konsumsi di Sumatera Barat per tahun lebih kurang 18 ribu ton sementara kebutuhan garam untuk industri lebih kurang 6 ribu ton. Untuk tata niaga garam, saat ini hanya mengikuti mekanisme pasar setelah keluarnya Peraturan Presiden nomor 71 tahun 2015.

Jawaban pemerintah ini adalah untuk menjawab pandangan umum fraksi DPRD Provinsi Sumatera Barat terhadap Ranperda Penanggulangan GAKY yang telah diajukan pada rapat paripurna sebelumnya. Ranperda Penanggulangan GAKY diajukan pemerintah provinsi bersama dengan dua Ranperda lainnya yaitu Ranperda tentang Pengelolaan Barang Milik Daerah dan Ranperda tentang perubahan kedua atas Peraturan Daerah nomor 1 tahun 2011 tentang Retribusi Jasa Umum. (02)






Berita lainnya :

 
KOTA KABUPATEN     BERITA    
pdangtime

facebook instagram twitter google plus
- Bukittingi
- Padang
- Pariaman
- Payakumbuh
- Pdg. Panjang
- Sawahlunto
- Kota Solok

- Agam
- Dharmasraya
- Mentawai
- Limapuluh Kota
- Padang Pariaman
- Pasaman
- Pasaman Barat
- Pesisir Selatan
- Sijunjung
- Solok
- Solok Selatan
- Tanah Datar

  - Ekonomi
- Hukum/Kriminal
- Pendidikan
- Politik
- Olahraga
- Agama
- Iptek
- Kesehatan
- Pariwisata
- Internasional
- Lingkungan
- Daerah
- Showbiz
- Gaya
- Video
- Foto
 

REDAKSI PEDOMAN MEDIA SIBER KONTAK MOBILE