padangtime
facebook instagram twitter google plus
Pemprov Sumbar

2018 Pemprov Sumbar Akan Gelar Festival Internasional Budaya Minangkabau

Kamis, 09 November 2017 - 15:34:57 WIB - 8

Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Taufik Effendi.

PadangTIME.c0m - Festival Internasional Budaya Minangkabau salah satu program unggulan bidang budaya pada 2018," kata Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar, Taufik Effendi dihubungi dari Padang,Pemerintah Provinsi Sumbar, berencana menggelar festival budaya berskala internasional dengan tajuk The International Festival of Minangkabau (TIFoM) pada 2018 berkolaborasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Badan Ekonomi Kreatif.

Festival Internasional Budaya Minangkabau,menurutnya akan dikemas secara profesional dengan melibatkan pihak-pihak yang memiliki kompetensi mulai dari pencarian tema hingga menentukan kelompok seni dan budaya yang berpartisipasi oleh kurator. Seniman dan budayawan Sumbar juga akan dilibatkan secara aktif, sementara pemerintah akan mengambil peran sebagai fasilitator.

Untuk menghindari stigma festival "plat merah", istilah yang dimunculkan sejumlah seniman dan budayawan setempat terhadap kegiatan budaya yang hampir seluruh prosesnya dimonopoli oleh pemerintah. TIFoM tersebut sekaligus menjadi "reinkarnasi" dari Pekan Budaya Sumbar yang terhenti pada 2014 karena terjebak dalam "festival saremonial".

Budayawan Sumbar, Nasrul Azwar menyambut baik ide dan gagasan pelaksanaan TIFoM pada 2018 tersebut. Namun untuk implementasinya ia masih meragukannya karena beberapa alasan.

Nasrul Azwar  mengatakan gagasan tersebut tidak pernah dibentangkan dan mengikutsertakan partisipasi pemikiran masyarakat, terutama budayawan, akademisi humaniora, seniman, dan aktivis budaya.

"Keterlibatan" masyarakat seni baru dimulai saat proposal sudah masuk ke Dirjen Kebudayaan setelah selesai dibuat dengan Rancangan Anggaran Biaya (RAB) dengan digelarnya Focus Group Discussion (FGD).

Dari 100 komunitas seni yang didaftarkan pada Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, hanya sekitar 30 komunitas yang diundang, didominasi komunitas seni Minangkabau. Tak ada komunitas dari Nias, Mentawai, India, China, Jawa, Sunda, yang terus menerus merawat budaya dan tradisi di Ranah Minang.

"Bagi saya, hal ini sudah menunjukkan even ini tidak berangkat dari pemikiran yang mendalam. Dibuat dengan sangat tergesa-gesa, dan selanjutnya akan berdampak pada kualitas even ini jika digelar nanti," kata dia.
Lebih lanjut Nasrul menjelaskan Festival ini berawal  dari pemikiran orang "atas " bukan dari "bawah". Semestinya, Dinas Kebudayaan membaca dengan baik kehidupan kebudayaan, seni, adat, dan peradaban itu dari tingkat nagari-nagari di Sumbar.

Peristiwa budaya semestinya dimulai dari tingkat nagari ini, bukan dari atas yang mengejar keramaiannya ketimbang substansinya.

"Jika Dinas Kebudayaan dan Dirjen Kebudayaan untuk TIFoM ini mengejar ramainya masyarakat menonton untuk ukuran kesuksesan, saya pikir institusi ini sudah salah urus," ujarnya.

Jika TIFoM 2018 ini direalisasikan, jangan digelar di Kota Padang saja. Sumbar itu bukan Padang. Bagi ke daerah-daerah yang dinilai layak menggelar. Ini soal teknis.

Untuk proses keikutsertaan yang akan mengisi TIFoM harus melewati kurator yang objektif dan jelas kriterianya, objektif, dan hasilnya kurasinya harus dipublikasikan kepada publik sebagai bentuk pertanggung jawaban tambah Nasrul.
  (02)









Berita lainnya :

 
KOTA KABUPATEN     BERITA    
pdangtime

facebook instagram twitter google plus
- Bukittingi
- Padang
- Pariaman
- Payakumbuh
- Pdg. Panjang
- Sawahlunto
- Kota Solok

- Agam
- Dharmasraya
- Mentawai
- Limapuluh Kota
- Padang Pariaman
- Pasaman
- Pasaman Barat
- Pesisir Selatan
- Sijunjung
- Solok
- Solok Selatan
- Tanah Datar

  - Ekonomi
- Hukum/Kriminal
- Pendidikan
- Politik
- Olahraga
- Agama
- Iptek
- Kesehatan
- Pariwisata
- Internasional
- Lingkungan
- Daerah
- Showbiz
- Gaya
- Video
- Foto
 

REDAKSI PEDOMAN MEDIA SIBER KONTAK MOBILE