padangtime
facebook instagram twitter google plus
Kab. Solok

BUPATI SOLOK IKUT HADIRI HARI JADI NAGARI KATIALO YANG KE-16

Jumat, 21 Oktober 2016 - 21:44:40 WIB - 205


PadangTIME.com - Tepatnya pada tanggal 18 Oktober yang merupakan moment berharga bagi masyarakat Nagari Katialo Kec. X koto Diatas Kabupaten Solok. Pasalnya kembali ke nagari haruslah bermula dengan kesediaan untuk rujuk kepada hukum adat dan norma yang berlaku di nagari serta kesetiaan melaksanakan hukum positif atau perundang-undangan negara. dikarenkan pada tanggal itu bersamaan dengan peringatan 16 tahun kembalinya nagari yang berada di lembah Bukit barisan itu kembali kepada pemerintahan nagari, setelah selama 32 tahun hidup dalam pemerintahan desa. Wali nagari akan berperan sebagai kepala pemerintahan di nagari dan juga pimpinan adat.

Kembali kepada pemerintahan nagari atau dikenal dengan istilah babaliak banagari, bagi masyarakat nagari Katialo jelas memiliki makna yang sangat mendalam. Karena dengan babaliak banagari, momentum kembalinya sistem tatakelola pemerintahan yang mengedepankan proses musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak di nagari bersangkutan. “Nagari Katialo telah melakukan banyak terobosan padamasa 16 tahun babaliak banagari ini. Terutama menyangkut pelaksanaan Adat basandi Syara’ Syara’ basandi Kitabullah,” kata Wali Nagari Syukriyon Edi dalam peringatan Haul ke 16 nagari Katialo di Medan nan Bapaneh Nagari Katialo.


Bupati Solok, H. Gusmal SE. MM, menegaskan hal itu saat menghadiri Ulang Tahun Nagari Katialo, Kecamatan X Koto Diatas, yang ke-16, Selasa (18/10/2016). Ulang tahun Nagari Katialo dilaksanakan di halaman gedung serba guna Nagari Katialo ini dihadiri oleh Ketua LKAAM Kab, Solok, Syafri Dt. Siri Marajo, Kepala Satpol PP, Muspika Kecamatan X Koto Diatas, Wali Nagari dan Ketua KAN se-Kecamatan X Koto Diatas.


Dalam kesempatan itu Ketua LKAAM Kab. Solok Dt. Siri Marajo mengatakan, dukungan masyarakat adat atau kesepakatan tungku tigo sajarangan yang terdiri dari ninik mamak, alim ulama, cadiak pandai, bundo kanduang dan kalangan rang mudo harus mendukung dalam satu tatanan sistim pemerintahan.
Anak nagari sangat berkepentingan dalam merumuskan nagarinya ujar Dt. Siri. Konsepnya tumbuh dari akar nagari itu sendiri, bukanlah suatu pemberian dari luar. Dalam pituah adat, “masak padi ‘rang singkarak, masaknyo batangkai-tangkai, satangkai jarang nan mudo, Kabek sabalik buhus sintak, Jaranglah urang nan maungkai, Tibo nan punyo rarak sajo.”

Mengoptimalkan program empat pilar pembangunan yang telah dicanangkan hingga 5 tahun pemerintahannya, Bupati juga akan menjadikan 1 sekolah umum yang ada di tiap kecamatan menjadi sekolah berbasis pesantren. “ Masyarakat madani itu akan tercipta, jika masyarakatnya selalu berpegang teguh kepada tuntunan Al-Qur’an dan sunnah,” tegas Bupati. (Wezi






Berita lainnya :

 
close
Emzalmi Desri
close
Mahyeldi Hendri
KOTA KABUPATEN     BERITA    
pdangtime

facebook instagram twitter google plus
- Bukittingi
- Padang
- Pariaman
- Payakumbuh
- Pdg. Panjang
- Sawahlunto
- Kota Solok

- Agam
- Dharmasraya
- Mentawai
- Limapuluh Kota
- Padang Pariaman
- Pasaman
- Pasaman Barat
- Pesisir Selatan
- Sijunjung
- Solok
- Solok Selatan
- Tanah Datar

  - Ekonomi
- Hukum/Kriminal
- Pendidikan
- Politik
- Olahraga
- Agama
- Iptek
- Kesehatan
- Pariwisata
- Internasional
- Lingkungan
- Daerah
- Showbiz
- Gaya
- Video
- Foto
 

REDAKSI PEDOMAN MEDIA SIBER KONTAK MOBILE